Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Saturday, March 17, 2012

Rukun Agama


Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman :

“Sesungguhnya agama (yang ada) di sisi Allah adalah Islam.” (Ali Imran: 19)

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85).

“Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu. Dan telah Aku sempurnakan nikmatKu untukmu dan Aku telah ridlai Islam sebagai agamamu.” (Al-Maidah: 3).

Sebagai agama yang sempurna dan diterima disisi Allah, maka setiap umat Islam wajib memahami dan meningkatkan ‘kualitas’ ke-Islam-annya dari waktu ke waktu.

Islam, ialah berserah diri kepada Allah dengan tauhid (hanya pada Allah, tidak bergantung pada makhluk dan benda lain) dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala perintah-Nya serta menjauhkan diri dari perbuatan (dan orang-orang yang melakukan) syirik.

Dan agama Islam, dalam pengertian tersebut, mempunyai tiga tingkatan, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan, masing-masing tingkatan mempunyai rukun-rukunnya.

I. Tingkatan Islam

Adapun tingkatan Islam, rukunnya ada lima :
[1] Syahadat (pengakuan dengan hati dan lisan) bahwa “Laa Ilaaha Ilallaah” (Tiada sesembahan yang haq selain Allah) dan Muhammad adalah Rasulullah.
[2] Mendirikan shalat.
[3] Mengeluarkan zakat.
[4] Shiyam (puasa) pada bulan Ramadhan.
[5] Haji ke Baitullah Al-Haram.
[1]. Dalil Syahadat.

Firman Allah Ta’ala.
“Artinya :
 Allah menyatakan bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Dia, dengan senantiasa menegakkan keadilan (Juga menyatakan demikian itu) para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan (yang haq) selain Dia. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [Al-Imraan : 18]

“Laa Ilaaha Ilallaah”‘ artinya : Tiada sesembahan yang haq selain Allah.

Syahadat ini mengandung dua unsur : menolak dan menetapkan. “Laa Ilaaha”, adalah menolak segala sembahan selain Allah. “Illallaah” adalah menetapkan bahwa penyembahan itu hanya untuk Allah semata-mata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu didalam penyembahan kepada-Nya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam kekuasaan-Nya.

Tafsiran syahadat tersebut diperjelas oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya :
 Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya : ‘Sesungguhnya aku menyatakan lepas dari segala yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakan-ku, karena sesungguhnya Dia akan menunjuki’. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali (kepada tauhid)”.[Az-Zukhruf : 26-28]

“Artinya : Katakanlah (Muhammad) : ‘Hai ahli kitab ! Marilah kamu kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu ; hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka :’Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang muslim (menyerahkan diri kepada Allah)”. [Ali 'Imran : 64]

Adapun dalil syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kalangan kamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman”.[At-Taubah : 128]

Syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, berarti : mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnya, dan menyembah Allah hanya dengan cara yang disyariatkannya.

[2]. Dalil Shalat dan Zakat serta tafsiran Tauhid.

Firman Allah Ta’ala.
“Artinya :
 Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan Shalat serta mengeluarkan Zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus”. [Al-Bayyinah : 5]

[3]. Dalil Shiyam (Puasa Ramadhan)

Firman Allah Ta’ala.
“Artinya :
 Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu untuk melakukan shiyam, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”.[Al-Baqarah : 183]

[4]. Dalil Haji.

Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Dan hanya untuk Allah, wajib bagi manusia melakukan
 haji, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha tidak memerlukan semsesta alam”. [Al 'Imran : 97)]

II. Tingkatan Iman.

Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi ialah syahadat “Laa Ilaaha Ilallaah”, sedang cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah salah satu dari cabang Iman.

Rukun Iman ada enam, yaitu :
[1] Iman kepada Allah.
[2] Iman kepada para Malaikat-Nya.
[3] Iman kepada Kitab-kitab-Nya.
[4] Iman kepada para Rasul-Nya.
[5] Iman kepada hari Akhirat, dan
[6] Iman kepada Qadar, yang baik dan yang buruk. (Qadar : takdir, ketentuan Ilahi. Yaitu : Iman bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam semesta ini adalah diketahui, dikehendaki dan dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala).

Dalil keenam rukun ini, firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Berbakti (dari Iman) itu bukanlah sekedar menghadapkan wajahmu (dalam shalat) ke arah Timur dan Barat, tetapi berbakti (dan Iman) yang sebenarnya ialah iman seseorang kepada Allah, hari Akhirat, para Malaikat, Kitab-kitab dan Nabi-nabi…”[Al-Baqarah : 177]

Dan firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Sesungguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar”. [Al-Qomar : 49]

III. Tingkatan Ihsan.

Ihsan, rukunnya hanya satu, yaitu :
“Artinya : Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. [Pengertian Ihsan tersebut adalah penggalan dari hadits Jibril, yang dituturkan oleh Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu 'Anhu, sebagaimana akan disebutkan]

Dalilnya, firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan“. [An-Nahl : 128]

Dan firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Dan bertakwallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesunnguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.[Asy-Syu'araa : 217-220]

Serta firman-Nya.
“Artinya : Dalam keadaan apapun kamu berada, dan (ayat) apapun dari Al-Qur’an yang kamu baca, serta pekerjaan apa saja yang kamu kerjakan, tidak lain kami adalah menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”. [Yunus : 61]

Adapun dalilnya dari Sunnah, ialah hadits Jibril[1] yang masyhur, yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.

“Artinya : Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya, tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menyandarkan kelututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata : ‘Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam’, maka beliau menjawab :’Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana’. Lelaki itu pun berkata : ‘Benarlah engkau’. Kata Umar :’Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau. Lalu ia berkata : ‘Beritahulah aku tentang Iman’. Beliau menjawab :’Yaitu : Beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk’. Ia pun berkata : ‘Benarlah engkau’. Kemudian ia berkata : ‘Beritahullah aku tentang Ihsan’. Beliau menjawab : Yaitu : Beribadah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu’. Ia berkata lagi. Beritahulah aku tentang hari Kiamat. Beliau menjawab : ‘Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya’. AKhirnya ia berkata :’Beritahulah aku sebagian dari tanda-tanda Kiamat itu’. Beliau menjawab : Yaitu : ‘Apabila ada hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna melarat lagi, pengembala domba saling membangga-banggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi’. Kata Umar : Lalu pergilah orang laki-laki itu, semantara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga Nabi bertanya : Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ? Aku menjawab : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau pun bersabda : ‘Dia adalah Jibril, telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian”. [2]

[Diringkas dari sumber aslinya dengan sedikit penyederhanaan bahasa, bersumber dari buku Tiga Landasan Utama, Oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal 18-26, Kementrian Urusan Islam, Waqaf, Da'wah dan Penyuluhan Urusan Penerbitan dan Penyebarab Kerajaan Arab Saudi]
________
Fote Note.
[1] Disebut hadits jibril, karena jibril-lah yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan menanyakan kepada beliau tentang, Islam, Iman dan masalah hari Kiamat. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada kaum muslimin tentang masalah-masaalah agama.
[2]. [Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Iman, bab 1, hadits ke 1. Dan diriwayatkan juga hadits dengan lafadz seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke 1.

Thursday, October 27, 2011

Warkah Akhir Imam Al Ghazali


Imam Ghazali terbangun pada dini hari dan sebagaimana biasanya melakukan shalat dan kemudian beliau bertanya pada adiknya, “Hari apakah sekarang ini?”

Adiknya pun menjawab, “Hari Isnin.”

Beliau kemudian memintanya untuk mengambilkan sajadah putihnya, beliau menciumnya, menebarkannya dan kemudian berbaring diatasnya sambil berkata lirih, “Ya Allah, hamba mematuhi perintahMu,”

… dan beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Di bawah bantalnya mereka menemukan bait-bait berikut, ditulis oleh Al-Ghazali ra., barangkali pada malam sebelumnya.

“Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku, mati
Menangis untukku dan berduka bagiku
Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku

Dengan nama Allah, kukatakan padamu, ini bukanlah aku,
Aku adalah jiwa, sedangkan ini hanyalah selonggok daging

Ini hanyalah rumah dan pakaian ku sementara waktu.
Aku adalah harta karun,hikimat yang tersembunyi,
Dibentuk oleh debu,yang menjadi singgasanaku,

Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya,
Aku adalah burung, dan badan ini hanyalah sangkar ku

Dan kini aku bebas terbang dan badan ini kutinggal sbg kenangan
Puji Tuhan, yang telah membebaskan aku

Dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi,
Hingga hari ini , aku sebelumnya mati, meskipun hidup diantara mu.

Kini aku hidup dalam kebenaran, dan pakaian kubur ku telah ditanggalkan.

Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas,
Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku.
Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca
Apa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Biarlah rumahku runtuh, baringkan sangkarku di tanah,
Buanglah sang jasad diri, itu hanyalah sebuah kenang2an, tidak lebih

Kesampingkan jubahku, itu hanyalah baju luar ku,
Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan
Aku telah melanjutkan perjalananku dan anda semua ku tinggalkan.

Rumah anda bukanlah tempat ku lagi.
Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tidak, itu adalah kehidupan,

Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini,
Di kehidupan ini, kita diberikan tidur,
Kematian adalah tidur, tidur yang diperpanjang

Janganlah takut ketika mati itu mendekat,
Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang diberkati ini
Ingatlah akan ampunan dan cinta Tuhanmu,

Bersyukurlah pada KaruniaNya dan datanglah tanpa takut.
Aku yang sekarang ini, kau pun dapat menjadi
Karena aku tahu kau dan aku adalah sama
Jiwa-jiwa yang datang dari Tuhannya

Badan badan yang berasal sama
Baik atapun jahat, semua adalah milik kita
Aku sampaikan pada anda sekarang pesan yang menggembirakan
Semoga kedamaian dan kegembiraan Allah menjadi milikmu selamanya.

Thursday, September 29, 2011

Potong Kuku IKUT SUNNAH NABI

Thursday, August 4, 2011

Hikmah Lailatul Qadar



LAILATUL Qadar adalah malam yang berlaku pada Ramadan. Malam ini disebutkan dalam dua surah al-Quran, iaitu padasurah al-Dukhan dan al-Qadr.
Firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya kami telah turunkan al-Quran itu pada malam yang penuh keberkatan dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Surah al-Dukhan, ayat 2)
Firman Allah bermaksud: “Sesungguhnya kami telah turunkan al-Quran itu pada malam kemuliaan.” (Surah al-Qadr, ayat 1)
Berdasarkan ayat di atas dapat dilihat bahawa malam al-Qadar disebut juga dengan malam yang penuh keberkatan. Sebab pada malam itu Allah mencucuri pelbagai rahmat, keampunan dan keberkatan kepada orang yang beramal dengan khusyuk dan berdoa dengan penuh keikhlasan.
Kepada mereka Allah memberikan ganjaran kebaikan yang sama nilainya dengan beramal seribu. Firman Allah bermaksud: “Malam al-Qadar itu itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Surah al-Qadr, ayat 3)
Ada beberapa riwayat yang menceritakan sebab Allah menurunkan malam al-Qadar untuk umat Muhammad.
Menurut Imam Malik, Rasulullah melihat bahawa umur umatnya tidak sepanjang umat sebelum mereka, baginda bermohon kepada Allah memberikan peluang di mana umatnya supaya dapat beramal dengan yang nilainya sama dengan amalan umat sebelum mereka.
Berdasarkan permohonan inilah maka Allah menurunkan Lailatul Qadar.
Syeikh Muhammad Abduh berpendapat bahawa sebab malam itu diturunkan kepada umat Muhamad kerana Qadar itu bermakna ketentuan atau takdir. Pada malam itu Allah mula mentakdirkan agama-Nya dan memerintahkan nabi-Nya untuk menyeru manusia kepada agama yang melepaskan mereka daripada segala kehancuran dan kerosakan.
Pendapat Syeikh Muhammad Abduh ini berdasarkan kenyataan bahawa al-Quran pertama kali diturunkan pada malam al-Qadar. Turunnya al-Quran pada dasarnya adalah watikah pelantikan Muhammad sebagai nabi dan rasul yang bertanggungjawab menyampaikan risalah Islam. Begitu juga dalam mengubah corak hidup manusia daripada alam jahiliah kepada suasana Islam. Ertinya malam al-Qadar itu adalah malam disyariatkan Islam kepada umat Nabi Muhammad sebagai agama penyelamat untuk seluruh alam.
Ada ulama lain yang menyatakan bahawa penyebab dikatakan dengan malam al-Qadar kerana pada malam itu Allah menetapkan takdir setiap makhluk baik berupa rezeki, umur atau sakit atau sihatnya seseorang untuk jangka masa setahun, iaitu dari malam al-Qadar tahun ini hingga ke malam al-Qadar tahun depan.
Mengenai jatuhnya malam al-Qadar, ulama berbeza pendapat mengenainya. Imam Nawawi berkata bahawa sebahagian ulama menyatakan malam itu bergilir dari tahun ke tahun. Ertinya apabila pada tahun ini berlaku pada malam 29 Ramadan, maka tahun akan datang datang pada malam berbeza.
Hal sama dikatakan oleh Ibn Hazm bahawa Lailatul Qadar itu ada kalanya pada malam 21, 23, 25, 27 atau 29 Ramadan.
Sementara menurut jumhur ulama, Lailatul Qadar berlaku pada malam yang sama pada setiap Ramadan iaitu pada malam 27 Ramadan. Ini berdasarkan hadis Rasulullah daripada Ubai bin Ka’ab yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan hadis dari Mu’awiyah yang diriwayatkan Abu Dawud. “Saya mendengar Rasulullah bersabda carilah Lailatul Qadar itu pada malam 27.”
Sebahagian sahabat dan ulama mencuba menentukan Lailatul Qadar dengan cara lain, iaitu menggunakan rumusan tertentu.
Ibnu Abbas berkata bahawa surah al-Qadr itu terdiri daripada 30 kalimah. Kata salamum hiya (selamat sejahteralah malam itu) berada pada kalimah yang ke-27.Oleh itu Ibnu Abbas menyatakan bahawa malam al-Qadar berlaku pada malam ke-27.
Sementara sebahagian ulama menyatakan bahawa kalimat Lailatul Qadr terdiri daripada sembilan huruf. Dalam surah al-Qadr kata-kata Lailatul Qadr itu diulang-ulang sebanyak tiga kali. Maka sembilan darab tiga adalah 27. Maknanya Lailatul Qadar itu berlaku pada malam 27.
Sementara ulama lain seperti Ahmad Marzuk dan Ibnu Arabi berpendapat bahawa Lailatul Qadar itu berlaku pada malam Jumaat ganjil pada 10 malam terakhir Ramadan.
Namun dalil yang paling kuat mengenai Lailatul Qadar adalah hadis daripada Aishah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. “Carilah sedaya-upaya kamu Lailatul Qadar itu pada sepuluh malam ganjil pada akhir Ramadan.”
Perbezaan pendapat sahabat dan ulama ini sebenarnya adalah satu kenyataan bahawa tidak ada satu dalil jelas yang menunjukkan bila malam ini berlaku. Tetapi sahabat dan ulama bersepakat dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Aishah tadi bahawa malam itu berlaku pada sepuluh malam ganjil akhir Ramadan.
Menurut Prof Wahbah al-Zuhayli, sebab dirahsiakan Lailatul Qadar supaya umat Islam sentiasa berusaha beribadah pada setiap malam Ramadan tanpa menumpukan pada satu malam saja. Ini kerana setiap malam pada Ramadan memiliki hikmah dan rahsia tersendiri

Tuesday, July 27, 2010

Permulaan agama ialah mengenal Allah s.w.t.


Permulaan agama ialah mengenal Allah s.w.t.

Hijrah bersama-sama Rasulullah s.a.w meletakkan makrifat sebagai permulaan, sedangkan hijrah tanpa Rasulullah s.a.w menjadikan makrifat sebagai kesudahan jalan. Sebab itu orang yang berhijrah tanpa Rasulullah s.a.w, setelah memperolehi makrifat mereka beragama dengan cara lain dari cara Rasulullah s.a.w beragama. Mereka tidak lagi berpegang kepada Sunah Rasulullah s.a.w. Sebenarnya mereka baharu berada di ambang pintu agama, belum lagi masuk ke dalam gerbang agama yang benar yang di bawa oleh Rasulullah s.a.w.

Fikir Dan Renungilah!

Sunday, May 16, 2010

PEREMPUAN TIDAK BERASAL DARIPADA TULANG RUSUK

Kita sering mendengar cerita bahawa Hawa diciptakan daripada tulang rusuk Adam. Sehingga terdapat ungkapan yang mengatakan wanita dijadikan daripada tulang rusuk supaya yang dekat dengan hati dan supaya sering didampingi serta diingati dan bermacam-macam lagi. Begitu juga, hampir semua kitab-kitab tafsir menyebutkan kisah penciptaan Hawa dan menjadi asas kepada ulama tafsir ketika menjelaskan maksud ayat pertama surah al-Nisa’. (Sila lihat Tafsir at-Tabari, Tafsir al-Baidhawi, al-Kahzin dan lain-lain)

Kenyataannya ialah tidak ada satupun ayat al-Quran dan Hadis Rasulullah s.a.w. yang jelas menyebutkan hakikat kejadian Hawa. Al-Quran tidak menyebutkan Hawa dicipta daripada Adam tetapi manusia itu dicipta daripada jiwa yang satu. Apa yang disebutkan di dalam al-Quran ialah manusia itu diciptakan daripada jenis yang sama dengannya juga. Seorang manusia tentunya ibu bapanya manusia juga bukan makhluk yang lain.

Abu A`la al-Mawdudi menulis komentar bagi ayat pertama surah al-Nisa’ ini: “Umumnya para pentafsir al-Quran menyebutkan Hawa dicipta daripada tulang rusuk Adam dan Bible juga menyebutkan perkara yang sama. Kitab Talmud pula menambah bahawa Hawa diciptakan daripada tulung rusuk Adam yang ketiga belas. Tetapi al-Quran tidak menyentuh langsung perkara ini dan hadis-hadis yang dipetik untuk menyokong pandangan ini mempunyai makna yang berbeza dari yang sering difahami. Oleh itu, perkara yang terbaik ialah membiarkan perkara yang tidak dijelaskan seperti yang terdapat dalam al-Quran dan tidak perlu membuang masa bagi menentukan perinciannya.” ( The Meaning of The Quran, jil. 2 hal. 94)

Menurut al-Mawdudi, hadis-hadis Rasulullah s.a.w. tidak menyatakan perkara yang sebagaimana yang tersebar dalam masyarakat Islam iaitu sebenarnya tidak ada satupun hadis baginda s.a.w yang menerangkan asal- usul kejadian Hawa.

Kaedah yang sebenar ialah tidak perlu memberatkan diri dalam menentukan perkara yang Allah s.w.t. tidak menyatakan dengan terang dan jelas. Contohnya, apabila Allah s.w.t. menyebutkan cerita tentang bahtera Nabi Nuh tidak perlu bagi kita untuk menentukan apakah saiz dan kapasitinya atau bahan buatannya. Perincian itu bukan menjadi maksud penurunan al-Quran. Apa yang penting ialah menjadikan peristiwa tersebut sebagai iktibar dab pengajaran. Dengan kata lain, al-Quran bukan kitab sejarah atau sains tetapi kitab yang memberi panduan hidup kepada manusia supaya selamat di dunia dan akhirat.

Dalam hal ini Shah Waliyullah menyebutkan dengan jelasnya. Kata beliau ketika mengulas kisah-kisah yang diceritakan oleh al-Quran: “Bukanlah maksud cerita-cerita di dalam al-Quran untuk mengetahui cerita itu sendiri. Maksud sebenarnya ialah supaya pembaca memikirkan betapa bahayanya syirik dan kemaksiatan serta hukuman Allah hasil dari perbuatan syirik itu di samping menenangkan hati orang-orang yang ikhlas dengan tibanya pertolongan dan perhatian Allah kepada mereka” (al-`Fawz al-Kabir Fi Usul al-Tafsir, hal. 138)

Mengapa Berlaku Kekeliruan Tentang Kejadian Hawa Ini?

Ada beberapa faktor mengapa berlaku kekeliruan dalam memahami makna sebenar ayat ini:

1. Berpegang Dengan Riwayat Israiliyyat

Fasal yang kedua di dalam Sifr al-Takwin menyebutkan Hawa diciptakan daripada tulang rusuk kiri Nabi Adam ketika baginda sedang tidur. (Tafsir al-Manar, jil. 4, hal. 268.) Disebabkan ada riwayat dalam kitab-kitab yang dahulu, ahli-ahli tafsir terus menganggap ia sebagai sokongan atau pentafsiran kepada al-Quran. Bagaimana mungkin ayat al-Quran ditafsirkan dengan riwayat Israiliyyat walhal penurunan kitab-kitab nabi terdahulu lebih awal lagi daripada al-Quran. Sepatutnya, kitab yang turun kemudianlah yang menjelaskan kitab-kitab yang terdahulu.

Hadis berkenaan perkara ini mempunyai beberapa versi. Antaranya ialah;

1. Perempuan itu diciptakan daripada tulang rusuk

2. Perempuan seperti tulang rusuk.

3. Perempuan adalah tulang rusuk.

2. Mengkhususkan Keumuman Hadis Tanpa Nas Yang Jelas

Antara kesilapan dan kekeliruan ialah mengkhususkan lafaz hadis yang menyebut perempuan kepada Hawa. Hadis-hadis yang diriwayatkan daripada Rasulullah s.a.w. semuanya dengan jelas menyatakan perempuan dalam bentuk tunggal atau jamak dan tidak ada yang menyebutkan Hawa secara khusus. Jelasnya, para pentafsir menyangka wanita dalam hadis tersebut adalah Hawa tanpa berdasarkan kepada nas yang lain yang menentukan makna yang dikehendaki oleh Rasulullah s.a.w. itu.

3. Kesilapan Memahami Kata Sendi Nama Min من

Walaupun perkataan min itu memberi erti “daripada”, “punca sesuatu perkara” atau “sebahagian”, kata sendi nama min juga mempunyai makna lain seperti “untuk menyatakan sebab” dan “menyatakan jenis sesuatu perkara”. Oleh itu, pemakaian huruf ini dalam bahasa Arab adalah luas dan tidak semestinya terikat dengan satu makna sahaja. (lihat, Ibn Hisyam, Mughni al-Labib, jil. 1, hal. 319)

Abu Muslim al-Asfahani mengatakan, maksud menciptakan daripadanya pasangannya ialah menciptakannya dari jenisnya. (lihat Hasyiah Zadah `Ala al-Baidhawi) Ini seperti ayat-ayat al-Quran berikut:

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaannya dan rahmatNya, bahawa Dia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikanNya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang yang berfikir. (Surah al-Rum: 21)

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi; Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri dan menjadikan dari jenis binatang-binatang ternak pasangan-pasangan (bagi bintang-binatang itu); dengan jalan yang demikian dikembangkanNya (zuriat keturunan) kamu semua. Tiada sesuatupun yang sebanding dengan (ZatNya, sifat-sifatNya dan pentadbiranNya) dan Dialah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat. (Surah al-Syura: 11)

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ

Dan Allah telah menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagi kamu daripada pasangan-pasangan kamu anak-anak dan cucu dan memberikan rezki kepada kamu daripada benda-benda yang baik. (Surah al-Nahl: 72)

Ayat-ayat ini tidak boleh difahami sebagai isteri-isteri kita itu diciptakan daripada diri atau jasad kita tetapi mestilah difahami sebagai “mereka itu dari jenis yang sama dengan kita”.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang rasul dari jenis kamu, yang amat berat baginya kesusahan kamu, sangat berharap akan keimanan kamu dan sangat kasih serta menyayangi kepada orang-orang yang beriman. (Surah al-Taubah:128)

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya Allah s.w.t. telah memberikan kurniaan yang besar kepada orang-orang yang beriman ketika Dia mengutuskan seorang rasul kepada mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan Kitab dan Hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu berada di dalam kesesatan yang nyata. (Surah Ali Imran: 164.)

Kedua-dua ayat ini dengan jelasnya menyebutkan Rasulullah s.a.w. yang diutuskan kepada kita adalah dari kalangan manusia yang sama seperti kita bukan dari kalangan makhluk yang lain seperti malaikat.

Dengan itu, hadis ini ditafsirkan sebagai sifat dan perasaan perempuan itu daripada jenis yang mudah bengkok.

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذي جاره واستوصوا بالنساء خيرا، فإنهن خلقن من ضلع، وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه، فإن ذهبت تقيمه كسرته، وأن تركته لم يزل أعوج، فاستوصوا بالنساء خيرا .

Sesiapa yang beriman dengan Allah dan Hari Akhirat, maka janganlah menyakiti jirannya dan hendaklah dia menjaga wanita dengan sebaik-baiknya kerana sesungguhnya mereka diciptakan daripada tulang rusuk. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas, jika kamu berusaha untuk membetulkannya kamu akan mematahkannya, jika kamu terus biarkan begitu ia akan terus bengkok. Oleh itu terimalah pesanan supaya menjaga wanita-wanita dengan baik. (Hadis riwayat al-Bukhari no: 4890)

عن أبي هريرة: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: المرأة كالضلع، إن أقمتها كسرتها.

Perempuan itu seperti tulang rusuk. Jika kamu ingin memperbetulkannya kamu akan mematahkannya. (Hadis riwayat al-Bukhari4889).

Hadis ini telah dikemukakan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab al-Nikah bab berlembut dengan wanita. Tujuan al-Bukhari mengemukakan hadis ini ialah untuk menyatakan sifat fitrah wanita bukannya hakikat kejadian mereka. Apakah tubuh atau jasad wanita akan mudah patah apabila dikasari oleh orang lain? Tentu sekali tidak.

عن أبي هريرة. قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن المرأة كالضلع. إذا ذهبت تقيمها كسرتها.

Sesungguhnya perempuan itu seperti tulang rusuk. Jika kamu ingin memperbetulkannya kamu akan mematahkannya. (Hadis riwayat Muslim no: 1468.)

Hadis ini lebih jelas lagi menyatakan sifat perempuan itu seperti tulang rusuk bukan diciptakan daripada tulang rusuk. Penggunakan partikel kaf ك ini bagi menyatakan persamaan antara perempuan dan tulang rusuk. Sementara ayat yang kedua merupakan sudut persamaan antara kedua-duanya.

Kecenderungan Imam al-Bukhari ketika membuat Tarjamatul Bab di dalam Sahihnya, iaitu:

باب: المداراة مع النساء، وقول النبي صلى الله عليه وسلم: (إنما المرأة كالضلع .

Bab berlembut dengan wanita dan Sabda Nabi s.a.w.: Sebenarnya perempuan itu seperti tulang rusuk.

Dengan membuat tajuk begini Imam al-Bukhari tidaklah berpendapat bahawa Hawa itu dijadikan daripada tulang rusuk kiri Nabi Adam.

Begitu juga di dalam al-Adab al-Mufrad, Imam al-Bukhari mengemukakan riwayat:

إن المرأة ضلع , وإنك إن تريد أن تقيمها تكسرها

Sesungguhnya perempuan itu tulang rusuk. Jika kamu mahu untuk meluruskannya maka kamu akan mematahkannya. (al-Adab al-Mufrad, no: 747)

Apakah hadis ini menyatakan hakikat perempuan itu sebenarnya tulang rusuk? Tentu sekali tidak. Hadis ini merupakah satu bentuk tasybih atau perumpamaan yang mempunyai nilai balaghah atau retorik yang tinggi di mana perkataan yang menyatakan persamaan tidak digunakan begitu juga sudut keserupaan tidak disertakan. Ayat yang kedua boleh juga dikatakan sebagai bukti bahawa perkataan tulang rusuk tidak difahami secara harfiah.

Sokongan Kepada Penafsiran Ini

Penafsiran min bukan dengan makna punca atau asal-usul sesuatu adalah sesuai hadis berikut:

عن أبي قلابة، عن أنس رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان في سفر، وكان غلام يحدو بهن يقال له أنجشة، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: (رويدك يا أنجشة سوقك بالقوارير). قال أبو قلابة: يعني النساء.

Daripada Abu Qilabah daripada Anas bin Malik bahawa Rasulullah s.a.w. berada dalam satu perjalanan. Ada seorang budak yang dikenali dengan Anjisyah menarik unta yang ditunggangi oleh wanita-wanita. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Anjisyah! Perlahankanlah kerana yang kamu tarik itu ialah botol-botol kaca. Perawi, Abu Qilabah, berkata: Maksudnya ialah wanita-wanita. (Hadis riwayat al-Bukhari no: 5857.)

Rasulullah s.a.w. menggambarkan wanita sebagai golongan yang lembut dari segi perwatakan dan cukup sensitif. Baginda menyebutkan wanita seperti botol-botol kaca yang mudah pecah jika tidak dijaga dan diberi perhatian.

Kesimpulan

Hadis ini perlu difahami secara balaghah iaitu berdasarkan retorik bahasa Arab. Rasulullah s.a.w. menyampaikan pesanan ini dalam bentuk tasybih (perumpamaan) supaya maksud pesanan difahami dengan lebih mendalam. Tegasnya, supaya pendengar lebih peka dan prihatin bukan memberi perhatian kepada makna harfiah. Rasulullah s.a.w. membuat perumpamaan wanita seperti tulang rusuk bukan bermaksud untuk merendahkan kedudukan mereka tetapi sebagai peringatan kepada kaum lelaki supaya memberi perhatian kepada mereka, melayani mereka dengan baik, mendidik dan menjaga hati mereka. Sama seperti lelaki, wanita sama-sama berperanan untuk menegakkan agama dan menguruskan hal ehwal kehidupan.

Dengan pemahaman yang betul tentang hadis-hadis ini maka tertolaklah anggapan bahawa wanita adalah dari kelas kedua kerana kononnya dijadikan daripada orang lelaki iaitu Adam!

Tuesday, April 20, 2010

Tasawwur Islam Bukan Tasawuf

oleh Ibnuyaacob

Dewasa ini kita amat bersyukur semakin ramai golongan belia khususnya remaja tanpa mengira jantina sudah mula membuka minda mereka ke arah isu-isu konspirasi. Walaupun kebanyakan hujah adalah berasaskan teori dan tanggapan rawak tetapi kecenderungan mencari maklumat dan menyelitkan serba sedikit artikel konspirasi di dalam blog peribadi amat membanggakan.

Namun begitu, di dalam keterujaan mendalami isu-isu konspirasi ada juga yang terpengaruh dengan putar belit konspirasi barat yang sering memandang serong kepada syariat Islam khususnya golongan ulama.

Ianya adalah berkaitan ilmu tasawuf. Blog-blog konspirasi barat secara umumnya termasuk Texe Marrs, Alex Jones memerhatikan amalan golongan sufi sebagai salah satu persamaan dengan amalan mistik kelompok pengamal Kabbalah. Mereka mengkategorikan ilmu-ilmu kesufian (tasawuf) sama sebagai Islamic Mystic dan Islamic Kabbalah. Mereka menganggap tasawuf adalah kabbalah versi Islam.

Tanggapan Silap tentang Tasawuf

Permasalahan yang timbul ialah golongan remaja menulis di dalam blog-blog peribadi mereka bahawa mata pelajaran Tasawuf sudah dipelajari di peringkat sekolah. Oleh itu, ianya tidak perlu diperdebatkan lagi. Pada pandangan golongan remaja ini subjek Tasawwur Islam itu adalah Tasawuf. Kedua-duanya sama.

Tambahan pula mereka membaca di media-media tabloid ungkapan-ungkapan tasawuf sesat, ajaran tasawuf menyeleweng dan sebagainya, maka ia sedikit sebanyak menambahkan lagi kecurigaan mereka terhadap istilah tasawuf tanpa mengetahui maksud sebenar.

Apa yang dipelajari di sekolah berkaitan subjek Tasawwur Islam dilihat berbeza dengan ajaran Tasawuf. Mereka melihat di dalam amalan golongan Tasawuf seperti berzikir beramai-ramai, beruzlah di dalam hutan, berpakaian compang-camping amat berbeza dengan sukatan yang mereka pelajari di sekolah. Oleh itu, mereka secara langsung menyimpulkan ajaran Tasawuf sebegini sesat.

Hal ini amatlah mendukacitakan walaupun yang beranggapan demikian bukanlah menjangkau angka majoriti. Kami melihat, perkara kecil ini suatu yang membahayakan kerana ia boleh menimbulkan sedikit rasa buruk sangka kepada golongan-golongan pengamal tasawuf.

Perkara ini akan menjadi lebih bahaya kepada golongan belia muslim khususnya yang tidak mempunyai pengetahuan asas tentang agama dan bukan berpendidikan aliran agama. Kita bimbang mereka membesar dengan mempunyai tanggapan negatif terhadap tasawuf.

Kita juga amat bimbang apabila golongan belia ini lebih dahulu mengenali konspirasi dari mengenal ilmu tasawuf.

Ilmu Tasawuf dan Pendidikan Kebangsaan

Sesetengah remaja atau belia (mungkin juga golongan tua sekular) suka beranggapan bahawa ilmu tasawuf sudah pun dipelajari diperingkat sekolah. Mereka mengandaikan mata pelajaran Tasawwur Islam yang terdapat pada tinggkatan 4 dan 5 itu adalah ilmu Tasawuf.

Suka kami tegaskan di sini, Tasawwur Islam bukanlah Tasawuf. Ia seperti langit dan bumi.

Tassawur Islam adalah nama mata pelajaran Elektif yang ditawarkan oleh Kementerian Pendidikan Kebangsaan. Pelajar bukan Islam juga boleh menduduki peperiksaan untuk mata pelajaran ini. Manakala Tasawuf pula adalah nama salah satu dari tiga cabang agama Islam.

Islam terdiri daripada tiga tiang agama iaitu Tauhid, Fekah dan Tasawuf. Seseorang Muslim hendaklah mempelajari agama Islam mengikut turutan ketiga-tiga ini. Pertama memahami dan mengenal Tuhan melalui kitab-kitab Tauhid, kedua, mempelajari Fekah dan ketiganya menyempurnakan dan melindungi kedua-dua ilmu Tauhid dan Fekah tadi dengan ilmu Tasawuf.

Perbezaan Takrifan Tasawwur Islam dan Tasawuf

Di dalam hal pentakrifan, kedua-duanya mempunyai maksud yang sangat berbeza. Tasawwur berasal di dalam istilah Melayunya bermaksud Gambaran (jika huruf shod disabdukan). Tetapi di dalam kamus Dewan edisi Arab-Melayu, tasawwur diistilahkan dengan maksud yang berbeza iaitu lebih kepada suatu aspek psikologi.

Bagi perkataan Tasawuf pula, ia berasal dari tiga huruf utama shod, waw dan faa. Ketiga-tiga ini membentuk perkataan yang berbunyi shofa (bersih) atau sufi (suci). Maka istilah Tasawuf adalah kalimah yang telah menerima imbuhan yang membawa kepada istilah khusus untuk ilmu-ilmu kejiwaan.

Ilmu tasawuf juga dikenali dengan pelbagai istilah seperti ilmu ma’rifah, ilmu batiniah, ilmu al-qulub, ilmu al-hal, ilmu al-yaqin dan sebagainya.

Perbezaan ilmu Tasawwur Islam dan Tasawuf

Di bawah ini adalah ringkasan sukatan mata pelajaran Tasawuf

1. Asas Pemikiran Islam
2. Pandangan Hidup Islam
3. Institusi Islam
4. Ekonomi Islam
5. Falsafah Perundangan Islam
6. Penyelesaian Masalah


Intisari perbezaan ilmu Tasawwur Islam dengan Tasawuf

* Sukatan pelajaran Tasawwur Islam boleh berubah-ubah mengikut masa dan ia dibina oleh guru-guru agama berpengalaman dan bukan bertaraf Ulama dan wali.

* Berbeza dengan ilmu Tasawuf, ia menekankan praktikal kejiwaan, amalan zikir berjemaah, pengijazahan tarekat dan pelbagai lagi amalan hati yang sangat-sangat jarang diketemukan.

* Ilmu tasawuf dibina intisarinya oleh ulama-ulama yang mursyid, mujahid, wali dan majoritinya adalah golongan yang sangat makbul doa mereka dan dilimpah kurnia karamah yang banyak tidak sebagai mana orang-orang awam. Misalnya Ibnu Arabi, Ibnu ‘Atiullah, Imam Al-Ghazali, Syeikh Muhammad Amin Al-Kurdi, Syeikh Qadir Al-Jailani, Syeikh Abdullah Daud Al-Fatani.

* Sebahagian besarnya juga pernah berjumpa Rasulullah SAW, Nabi Khidir secara sedar dan mimpi mengikut tahap kewalian masing-masing.

* Pengamal ilmu tasawuf secara intensif seringkali dihadiahkan Allah keramat-keramat yang tidak dipunyai oleh orang awam manakala pelajar yang mempelajari subjek Tasawwur Islam adlaah bagi tujuan pemahaman dan peperiksaan sahaja.

Silap Faham Terhadap Ahli Tasawuf

Sesetengah orang menganggap golongan tasawuf sangat bahaya dan suka mengintai isi hati orang. Sebenarnya bukanlah tujuan pengamal tersebut untuk membaca isi hati orang tetapi ia adalah anugerah Allah kepada si pengamal di atas kesungguhannya beribadah dalam mendekati Allah.

Ahli Tasawuf juga martabatnya lebih tinggi dari Ahli Fekah kerana seluruh kehidupannya berfokus pada menumpu pengabdian diri kepada Allah semata.

Hatta Imam Syafie r.a. sekali pun ada ketikanya bila menghadapi masalah dalam menyelesaikan masalah-masalah fiqh, beliau akan mencari ulama-ulama sufi untuk menenangkan jiwa.

Malah menurut Syeikh Abu Talib Makki dalam kitab masyurnya, Qutul-Qulub, para ulama zahir apabila menghadapi masalah dalam menentukan hukum (masalah fiqh) maka mereka akan merujuk masalah tersebut kepada ulama tasawuf, sebab golongan ini dianggap lebih hampir kepada hidayah, jauh dari maksiat dan tidak dikuasai nafsu.

Tidak Semua Guru Agama Belajar Tasawuf Secara Praktikal

Seperti pada artikel terdahulu, hal-hal tasawuf janganlah ditanya di dalam internet walaupun ada ustaz-ustaz yang membuka blog untuk ruangan bertanya. Kita bimbang ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab memanipulasi jawapan yang boleh mengelirukan pemahaman belia tentang tasawuf.

Pada pandangan kami, jika seseorang ahli agama itu benar-benar mendalami ilmu tasawuf maka ia tidak akan sesekali membuka ruang soal jawab di internet.

Semua orang menganggap apabila seseorang itu bergelar ustaz atau ustazah maka semua ilmu agama akan dipelajarinya. Hendaklah kalian berhati-hati dalam hal ini kerana hal yang demikian bisa mendatangkan ketaksuban yang tidak terperi kesannya pada kehidupan si penanya.

Kami tidak nafikan ada sesetengah guru agama menjadi penyebab utama kepada ketidakfahaman belia kepada ilmu tasawuf. Kami berani katakan hanya 0.01 peratus guru berpendidikan agama di Malaysia termasuk lepasan Timur Tengah yang belajar ilmu tarekat secara intensif.

Kesimpulan

Kesimpulannya, Tasawwur Islam amat jauh bezanya dengan ilmu Tasawuf walaupun subjek Tasawwur Islam itu juga dinisbahkan ia dalam bab ilmu-ilmu pengetahuan. Namun begitu, tingkatan ilmu dan taraf kemuktabaran ilmu itu haruslah difahami terlebih dahulu.

Wallahu’alam…

P/S : Diharap artikel yang sangat kecil ini dapat menjernihkan tanggapan silap tentang ilmu Tasawuf dikalangan remaja.

Saturday, February 20, 2010

MABUK DALAM CINTA TERHADAP ALLAH

Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahawa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Bila pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa a.s berada di hadapannya maka dia pun berkata, "Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Jarrah cintaku kepada-Nya." Berkata Nabi Isa a.s, "Wahai saudaraku, kamu tidak akan terdaya untuk seberat Jarrah itu."

Berkata pemuda itu lagi, "Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu Jarrah, maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah." Oleh kerana keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah s.w.t., maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ. Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahawa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.

Setelah Nabi Isa a.s mendengat penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah s.w.t., "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu." Selesai sahaja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit. Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s." Kemudian Allah s.w.t. menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya."

Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah s.w.t., tetapi dia mencintai dunia. 2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia inginmendapat sanjungan dari manusia. 3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.

Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima lupa kepada yang lima :

1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur."

MENCELA MASA = MENCELA ALLAH


Manusia sering mencari alasan untuk menjustifikasikan setiap perbuatannya. Termasuklah menyalahkan masa/waktu atau menycelanya dengan pelbagai alasan yang tidak munasabah.

“Man kenapa kau tak buat majlis kahwin kau bulan 8 saja?” Tanya Halim.

“Uish gila kau, bulan 8 bulan sial orang-orang dulu kata.” Jawab Salman selamba.

“Bulan 5 pun jangan buat, sebab bulan ini orang kata mendatangkan mudarat pada pengantin.” Karim menambah perisa.


Semuanya menyalahkan masa/waktu, sehingga mereka terlupa bahawa Allah yang mencipta masa. Menyalahkan masa, bererti mempertikaikan dan menyalahkan Allah yang menciptanya. Mencela ciptaan Allah bererti mencela Allah.

Perbuatan ini sama saja seperti yang dilakukan oleh kaum Musyrikin sepertimana yang dikhabarkan oleh Allah dalam surah al-Jatsiyah ayat 24:

“Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”
Dalam ayat ini Allah telah mencela kembali orang-orang Musyrik yang mencela waktu-waktu yang dicipta oleh Allah. Larangan mencela waktu juga telah diingatkan oleh Nabi Muhammad Shallahu-alaihi wasalam dalam sebuah hadith Qudsi yang direkodkan oleh Imam Muslim,

“Allah ta’ala telah berfirman, ‘Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah pencipta (pengatur) waktu, Akulah yang menukar-nukarkan malam dan siang.’ ”
Betapa kita sering terlupa, sedangkan perkara ini amat besar di sisi Allah. Masihkan kita mahu menyalahkan masa? Atau kita yang patut yang dipersalahkan?

Fikirkanlah.


COPY FROM YUSSAMIR.COM

Thursday, February 18, 2010

SIKAP ORANG LALAI DAN ORANG BERAKAL

ORANG LALAI (DARI PEGANGAN TAUHID), TATKALA DATANG WAKTU PAGI DIA MEMIKIRKAN APA YANG HARUS DIKERJAKANNYA. ORANG YANG BERAKAL (BERTAUHID) MENERIMA PEKERJAAN YANG DITAKDIRKAN ALLAH S.W.T UNTUKNYA.

Manusia berada dalam salah satu dari dua keadaan. Jika kuat satu keadaan lemahlah keadaan yang satu lagi. Dua keadaan itu adalah pertama perhatian kepada dirinya sendiri dan kedua adalah perhatian kepada Tuhannya. Jika dia asyik kepada dirinya lalailah dia kepada Tuhannya. Jika dia asyik kepada Tuhannya lalailah dia kepada dirinya. Orang yang lemah tauhidnya akan asyik kepada dirinya dan menjadi lalai daripada mengingati Tuhannya. Orang ini mungkin kuat mengerjakan amal ibadat dan berbuat kebaikan kepada sesama makhluk. Tetapi, keasyikan kepada diri sendiri membuatnya melihat amal dan perbuatan sebagai hasil yang keluar dari dirinya kerana dirinya dan kembali kepada dirinya. Jika dia melihat Tuhan maka dilihatnya Tuhan memberinya kebebasan untuk melakukan apa yang dia kehendaki. Dirasakan seolah-olah Tuhan tidak mengganggu pekerjaannya. Dia berpegang kepada kenyataan bahawa Tuhan tidak mengubah nasib sesuatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasibnya. Oleh itu, nasib dirinya terletak dalam tangannya sendiri. Dan, Tuhan memberinya nasib menurut usaha yang disumbangkannya. Bagi menjamin dia mendapat nasib yang baik maka dia membuat perancangan yang rapi dan mengambil tindakan yang berkesan. Dia memulakan harinya dengan menyusun jadual yang wajib ditaatinya untuk hari itu. Untung malang nasibnya bergantung kepada kemampuannya untuk merialisasikan apa yang dirancangkannya.

Manusia yang berpegang kepada prinsip demikian adalah benar menurut aspek dirinya tetapi adalah orang yang lalai menurut aspek ketuhanan yang menguasai dirinya. Pengagungan kekuatan diri sendiri akan memperkecilkan kekuatan Maharaja yang memerintah sekalian alam maya ini. Prinsip yang demikian menambahkan ego dirinya dan menjauhkannya dari merendahkan diri kepada Tuhannya, walaupun banyak ibadat dan perbuatan baik yang dikerjakannya. Amal yang banyak menyebabkannya menjadi ujub, riak dan sama’ah. Amal yang demikian tatkala dibawa ke neraca hisab di akhirat kelak ia akan berterbangan seperti debu. Ia tidak dapat menolong tuannya kerana orang itu menjadikan dirinya sebagai tapak untuk meletakkan amalnya. Di Padang Mahsyar dirinya sendiri tidak berdaya berdiri di hadapan Hakim Yang Maha Perkasa. Bila dia rebah, rebah jugalah amalnya.

Sekiranya kita mahu amal dapat berdiri tegak binalah ia di atas tapak tauhid. Pandangan tauhid melihat apa yang dari Allah s.w.t, berdiri dengan Allah s.w.t dan kembali kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t yang memiliki dan menguasai sekalian alam serta isi dan kejadian yang berlaku di dalamnya. Tidak bergerak walau sebesar zarah melainkan dengan izin-Nya. Tidak terjadi sesuatu perkara melainkan dengan Kudrat dan Iradat-Nya. Allah s.w.t telah menentukan Qadak sebelum Dia menzahirkan Qadar. Setiap yang berlaku adalah menurut ketentuan-Nya. Orang yang berpegang pada prinsip ini menyambut kedatangan pagi dengan persiapan untuk menerima ketibaan takdir Ilahi. Dia tahu bahawa apa yang Allah s.w.t takdirkan untuknya hari itu pasti sampai kepadanya. Tidak ada sesiapa yang boleh mengubahnya. Bergeraklah dia dengan sepenuh tenaga mendukung takdir yang diamanatkan kepadanya. Jangan menganggap orang yang bepegang kepada prinsip tauhid sebagai orang yang pasif, hanya berpeluk tubuh. Dia tetap aktif dengan berbagai-bagai aktiviti, melebihi orang yang berpegang kepada prinsip yang pertama. Perbezaan antara keduanya adalah daya rasa dan daya nilai. Pekerjaan dan perbuatan adalah serupa. Orang yang pertama merasakan dialah yang melahirkan amal. Dia melihat dirinya yang melakukan amal. Orang kedua melihat dirinya adalah alat, dan Allah s.w.t adalah Pelaku yang menggunakan alat. Dia melihat dirinya dipilih oleh Allah s.w.t bagi menzahirkan sesuatu perbuatan. Oleh sebab perbuatan yang ditakdirkan untuknya itu menjadi amanat Allah s.w.t kepadanya maka dia melakukannya sebaik mungkin menurut kadar kemampuan yang Allah s.w.t kurniakan kepadanya dan dia mengharapkan perbuatan yang lahir dari dirinya itu diredai Allah s.w.t. Orang seperti ini tidak panik menerima kedatangan peristiwa besar secara mendadak kerana dia melihat bahawa peristiwa tersebut adalah takdir Allah s.w.t yang sedang berjalan dan dia berada di tengah jalan laluan takdir itu, lalu dia menerimanya dengan senang hati. Dia yakin bahawa Allah s.w.t yang mendatangkan takdir dalam bentuk peristiwa maka Dia juga yang melahirkan kesan dari peristiwa berkenaan.

Apabila seseorang itu berfungsi mengikut urutan takdir dia dapat menerima akibat daripada takdir itu walaupun akibat itu tidak menguntungkannya. Jika akibat yang baik sampai kepadanya dia yakin bahawa Allah s.w.t akan memeliharanya agar tidak terjadi sia-sia kebaikan yang diterimanya dan dia bersyukur. Jika akibat buruk yang sampai kepadanya dia yakin bahawa Allah s.w.t akan menguatkannya dengan kesabaran dan keredaan. Hati yang benar-benar bertauhid tidak dapat diganggu gugat oleh apa-apa pun.

MENUNDA AMAL TANDA KEBODOHAN

MENUNDA AMAL KEBAIKAN KERANA MENANTIKAN KESEMPATAN YANG LEBIH BAIK ADALAH TANDA KEBODOHAN.

Orang yang mabuk dibuai oleh ombak kelalaian tidak dapat melihat bahawa pada setiap detik pintu rahmat Allah s.w.t sentiasa terbuka dan Allah s.w.t sentiasa berhadap kepada hamba-hamba-Nya. Setiap saat adalah kesempatan dan tidak ada kesempatan yang lebih baik daripada kesempatan yang memperlihatkan dirinya kepada kita. Kesempatan yang paling baik ialah kesempatan yang kita sedang berada di dalamnya.

Kelalaian adalah buah kepada panjang angan-angan. Panjang angan-angan pula datangnya dari pokok kurang ingatan kepada mati. Jadi, ubat yang paling mujarab untuk mengubati penyakit kelalaian ialah memperbanyakkan ingatan kepada mati. Apabila ingatan kepada mati sudah kuat maka seseorang itu tidak akan mengabaikan kesempatan yang ada baginya untuk melakukan amal salih.
Powered by Blogger.

Blogger templates